Ingatkah kamu, saat Jarak mengetukkan palu perpisahan kita? Aku yakin kamu masih ingat. Karena beberapa saat sebelum palu itu diketukkan, kau mengusapkan air matamu di bahuku, memeluk erat tubuhku, menggenggam kuat tanganku. Ya…. perpisahan itu memang bukan keinginan kita, itu semua keinginan Jarak, sang Hakim.
…………………………………………………………….
Tahukah kamu? Setelah kita resmi dipisahkan oleh Jarak, aku mempunyai teman baru. Dia datang padaku, memperkenalkan diri sambil tersenyum dan menyipitkan kedua matanya manja, “Hai, namaku Sepi ^^”, katanya.
“Hmmm…. Nama yang lucu…”, pikirku.
Singkat cerita, aku dan sepi pun mulai berteman akrab, atau bisa dibilang kami bersahabat. Hingga akhirnya aku sampai pada fase dimana aku merasa tak bisa hidup tanpa Sepi. Tapi aku masih yakin, ini bukan cinta. Aku tak mungkin mencintai Sepi, aku tahu aku mencintaimu, sangat.
Tapi, maafkan aku, kekasih. Karena tanpa kusadari, hubunganku dengan Sepi menjadi semakin intim. Aku memeluknya, mencumbunya, dan bercinta dengannya tiap malam, ya…. setiap malam. Dan kini aku tahu bahwa air mata adalah orgasme terkejam saat aku bercinta dengannya.
Yang aku heran, sepi langsung melahirkan anak, hanya beberapa detik setiap kali kami selesai bercinta, setiap malam. Dan kamu pasti tahu berapa malam aku tanpamu, sebanyak itulah aku bercinta dengan sepi, sebanyak itulah anak-anak yang dilahirkan sepi dariku. Ya… anak Sepi terlalu banyak, tak mungkin aku menghafal nama-nama mereka. Tahukah kamu? Mereka semua kunamai Rindu…



